Pakdhe yang Gemar Menulis


Rovicky Dwi Putrohari (51), geolog yang telah 25 tahun bekerja di perusahaan minyak dan gas. Profesionalitasnya diakui dengan dipilih sebagai Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) sejak 2011. Namun baginya, pencapaian terbesar adalah mencipta blog populer: “Dongeng Geologi”.

Oleh: Mahfud Ivan Patoni

Sejak kecil, Rovicky suka menulis. Dia rutin mengirim tulisan ke koran lokal di Yogyakarta, walaupun belum pernah diterbitkan. “Kalau tulisan dikembalikan diberi koreksi oleh redakturnya. Dari situ saya belajar menulis,” kata dia.

Kegemaran menulis ini tersendat sejak kuliah. Saat itu, dia lebih sibuk jadi asisten praktikum dan mendaki gunung. Baru ketika internet mulai populer, sekitar tahun 1998, Rovicky menemukan kembali hobi menulisnya.
Kini, rata-rata dia menghabiskan dua sampai tiga jam per hari untuk mencari data lalu menuliskannya di blognya, Dongeng Geologi. Awalnya menulis satu tulisan butuh waktu dua hari, saat ini kadang hanya perlu sejam.

“Disela-sela kerja, di mana saja, saya berusaha menjawab pertanyaan pembaca blog,” kata dia. Kelebihan media sosial seperti blog memang adanya interaktivitas penulis dan pembaca. “Bahkan, sering blog saya jadi ruang berdiskusi para pembaca yang beradu argumen.”

Tema yang paling digemari pembaca, soal bagaimana mencari air. Tema ini, dikunjungi rata-rata 50 orang per hari, dan total sudah dilihat lebih dari 100 ribu kali. Pengunjung blognya melonjak saat bencana. Misalnya, tulisannya soal Kelud telah dikunjungi 90 ribu pembaca.

Salah satu kelebihan Rovicky adalah kepintarannya menulis dengan bahasa yang ringan. Dia memosisikan diri seperti pendongeng. Mekanisme geologi yang rumit, diolah menjadi mudah dicerna awam dan kerap ditampilkan dalam bentuk dialog. Dalam menulis, dia kerap menyebut dirinya sebagai “Pakdhe”.

“Jadi, Pakdhe, kenapa kita masih juga impor daging sapi dan beras, padahal katanya kita negeri agraris?” Upss....kalau soal pertanian, mungkin dibutuhkan Pakdhe-Pakdhe lainnya yang memiliki visi dan mau memberi penjelasannya dengan gamblang sesuai dengan bidang kepakaran kepada masyarakat luas...

Baca juga tulisan sebelumnya: Dongeng Geologi tentang Nusantara

Biodata

Nama: Rovicky Dwi Putrohari
Tempat/tgl lahir: Yogyakarta, 12 Maret 1963
Pendidikan: Jurusan Geologi FT UGM (lulus 1983), Master Geofisika UI (lulus 1998)

Pengalaman kerja:

  • HESS Oil and Gas, Jakarta (2010 –  sekarang)
  • HESS Oil and Gas, Kuala Lumpur (2005 – 2010)
  • Murphy Oil Corp, Kuala Lumpur (2004 – 2005)
  • Total E&P Indonesia, Balikpapan (2003)
  • Brunei Shell PetroleumSeria, Brunei (2001-2002)
  • Kondur Petroleum S.A (1995 – 2001)
  • LASMO Indonesia Ltd (1990 -1995)
  • HUDBAY OIL(MS) Ltd (1988 – 1990)

Aktivitas lain:
  • Ketua IAGI (2011 - )
  • Pendiri Forum Geofisika Reservoir Indonesia, Forum Geosaintist Muda Indonesia dan Mailing list IndoEnergy
  • Pengelola blog “Dongeng Geologi”


Dongeng Geologi tentang Nusantara


Rovicky Dwi Putrohari (51), geolog yang telah 25 tahun bekerja di perusahaan minyak dan gas. Profesionalitasnya diakui dengan dipilih sebagai Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) sejak 2011. Namun baginya, pencapaian terbesar adalah mencipta blog populer: “Dongeng Geologi”.

Oleh: Mahfud Ivan Patoni

Nusantara diberkahi bentang alam elok, tanah subur, hutan hujan kaya satwa endemis, dan berlimpah mineral. Segenap kekayaan ini merupakan berkah dari kondisi geologi pulau-pulau penyusun negeri yang hiperaktif.

Namun, kondisi ini juga yang membuat negeri ini rentan dilanda bencana geologi, seperti gempa, tsunami, serta letusan gunung api. “Sekalipun bencana alam berulang terjadi di masa lalu, namun kesadaran bencana kita masih rendah. Kondisi ini disebabkan minimnya pengetahuan geologi, dan itu bisa fatal,” kata Rovicky.

Dia mencontohkan besarnya korban tsunami Aceh pada 26 Desember 2004 karena banyak warga yang justru ke pantai melihat laut surut sesaat setelah gempa. Padahal, surutnya laut ini adalah salah satu tanda akan terjadinya tsunami.

“Jika orang Aceh diberi tahu sebelumnya soal tanda-tanda tsunami, korban mungkin tidak akan sebanyak itu,” kata dia. “Jika kita memahami geologi, maka kita akan mengerti kondisi sekitar. Karena itu ilmu ini harus dibagi.”

Ilmu untuk hidup

Keinginan untuk berbagi ilmu geologi inilah yang mendorong Rovicky menulis di internet sejak tahun 1998. Awalnya ada karyawan bagian administrasi di kantornya, perusahaan minyak di Jakarta, yang kerap bertanya soal perminyakan dan geologi dasar seperti, “Kenapa sungai berkelok-kelok?” atau “Kenapa terjadi banjir?”

Rovikcy kemudian memberikan penjelasan dengan menulis di internet. Saat itu belum ada blog berformat seperti sekarang. “Awal-awal html. Belum bisa buat penjelasan dengan gambar,” kata dia.

Rovicky terus menulis tentang geologi, sekalipun dia kemudian pindah ke sejumlah perusahaan migas lain, termasuk ke Malaysia dan Brunei. Hingga kini blog “Dongeng Geologi” dikunjungi 2.287.409 orang, dan sebagian isinya telah menyebar luas karena Rovicky membebaskan pengunjung menyalin tulisannya. Ada tiga hal yang biasa ditulis Rovicky, yaitu soal ekstraksi mineral, mitigasi bencana, dan pelestarian lingkungan.

Beberapa bulan sebelum bencana Aceh, sebenarnya Rovicky menulis tentang ancaman tsunami di barat Sumatera. Dia menyitir pernyataan geolog Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Danny Hilman, yang mempresentasikan hasil penelitiannya tentang Mentawai di depan para geolog di Jakarta.

“Saat menulis itu, saya belum begitu terbayang besarnya bahaya tsunami,” kata dia.

Sejak bencana Aceh, Rovicky tertarik membaca dan menulis soal tsunami dan bencana alam lainnya. Selain menulis di blog, Rovicky juga berbagi pengetahuan soal geologi dan kebencanaan dengan datang ke sekolah-sekolah dasar hingga menengah.

Apa pentingnya geologi bagi masyarakat?

Hingga saat ini masyarakat kebanyakan mengaitkan geologi dengan eksplorasi pertambangan. Padahal, geologi juga ilmu tentang bagaimana bertahan hidup.

Di sisi lain, kesenjangan remunerasi menyebabkan profesi di bidang mitigasi bencana kurang diminati. Sisi bisnis bidang kebencanaan masih dipandang sebelah mata. Bahkan para penyelamat masih dilihat sebagai profesi amatir atau sukarelawan.

Akhirnya kondisi ini berdampak pada sedikitnya orang yang mau menggeluti profesi kegunungapian dan kebencanaan lainnya. Padahal mereka juga harus dihargai secara profesional juga.

Kenapa membuat blog geologi populer?

Saya melihat masyarakat sebenarnya haus dengan informasi kegeologian, misalnya kenapa tsunami bisa terjadi atau apakah akan berulang lagi. Di sisi lain, media massa kebanyakan hanya menulis drama saat kejadian bencana atau berupa berita saja. Masyarakat butuh informasi dan penjelasan yang lebih lengkap, dengan bahasa yang mudah difahami.

Beberapa kali saya bertanya kepada pengunjung blog saya, kenapa tidak mencari tahu soal-soal geologi ini ke situs-situs resmi milik pemerintah seperti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) atau Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Mereka kebanyakan menjawab tak pernah mendapat respons jika bertanya kepada ahli-ahlinya.

Berkembangnya dunia internet bisa menjadi kesempatan untuk menyampaikan informasi secara lebih mudah dan interaktif ke masyarakat. Tiap departemen di pemerintah bisa memanfaatkan ini sebenarnya, terutama bagian litbangnya.

Minimnya penjelasan secara ilmiah, termasuk dari disiplin ilmu geologi membuat masyarakat membangun logika sendiri. Logika yang paling mudah adalah dengan mengaitkannya dengan unsur “klenik”. Akibatnya, kita kerap tidak belajar dari setiap kejadian yang telah lewat.

Bukankah pendidikan ilmu alam diajarkan sejak dini di sekolah?

Selama ini, pola pengajaran ilmu alam di sekolah-sekolah di Indonesia tidak membumi. Lebih banyak dilakukan dari buku, dengan teknik menghafal. Materi dan kurikulumnya seragam. Setiap anak diwajibkan mengerti semua hal yang barangkali kurang bermakna pada kebutuhan “survival”-nya.

Dengan model pendidikan seperti ini, anak-anak akhirnya kesulitan memahami kondisi alam sekitar. Cara terbaik untuk belajar ilmu alam itu harusnya langsung dari alam, sesuai konteks. Misalnya, orang Sumatera, butuh porsi lebih pelajaran soal gempa dan tsunami, dan bagaimana menghadapinya. Di Jawa butuh lebih banyak soal pelajaran gunung api.

Salah kelola

Ketidakfahaman soal geologi ini, menurut Rovicky, tak hanya dialami masyarakat kebanyakan, tetapi juga oleh pejabat pemerintah maupun legislatif. Akibatnya, banyak kebijakan keliru yang bisa memicu petaka.

Rovicky mencontohkan tentang salah kelola kekayaan tambang. Ratusan tahun Bumi nusantara digali mineralnya. Tetapi, Indonesia tak juga beranjak menjadi negeri makmur. Setidaknya, kemakmuran itu belum merata dinikmati rakyat. Sebaliknya kerusakan alam kian nyata.

Indonesia saat ini berada dalam ancaman krisis energi. Kebutuhan minyak bumi terus melonjak, seiring harganya di pasar dunia yang meninggi. Padahal produksi minyak menurun. Persoalannya bukan hanya cadangan mineral yang menipis, tetapi menurut Rovicky, juga dipicu kebijakan menjual mineral dalam bentuk mentah. “Kebijakan ini telah berlangsung sejak era kolonial,” kata dia.

Kenapa kebijakan kolonial ini dilestarikan?

Masalahnya ada di produk perundang-undangan tentang pengelolaan sumber daya alam kita juga masih mengadopsi pola kolonial. Padahal, hukum itu dibuat penguasa demi kepentingan mereka saat itu.

Secara umum aturan pengusahaan tambang, migas dan perkebunan mengacu pada pemberian hak khusus pada investor. Hak-hak ini mereduksi hak-hak rakyat pada pemanfaatan alam. Misalnya, hukum adat menyatakan bahwa menemukan buah jatuh adalah hak yang menemukan. Namun hak penemu ini hilang ketika tanah itu pengelolaannya diberikan pada investor.

Zaman kolonial, “investor” itu adalah VOC. Mereka mengambil sumber daya alam dengan tentara. Saat ini “investor” bisa dari luar maupun dari dalam, dalam bentuk lain tapi prinsipnya sama, cari untung sebanyak-banyaknya dengan mengekspor bahan mentah.

Aturan larangan ekspor bahan mentah baru saja dibuat Undang-Undang No 4/2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara (UU Minerba). Sebenarnya sangat terlambat, tetapi ini saja mengalami hambatan dari dalam selain tekanan dari luar, yang menunjukkan bahwa mentalitas terjajah masih ada di negeri ini.

Dalam kurun 2030 – 2050, Indonesia akan punya banyak tenaga kerja. Kalau sumber daya alam hilang akan berbahaya. Di negara lain, seperti India dan China, acadangan batu bara dalam negeri disimpan. Mereka pilih beli batu bara dari negara lain, termasuk dari Indonesia. Mereka simpan untuk masa mendatang.

Mulai 30 tahun terakhir, konsumsi sumber daya alam, termasuk energi, sangat besar. Padahal eksplorasinya berkurang. Penemuan lapangan baru pun tidak banyak. Padahal, dari eksplorasi hingga produksi rata-rata butuh waktu 30-an tahun. Misalnya, kita ketemu lahan minyak Duri dan Minas tahun 1945-an, namun baru berproduksi sekitar tahun 1970-an. Sebagai geolog saya sangat gelisah dengan situasi ini.

Apa yang Anda tawarkan untuk perubahan?

Kita cenderung berpikir jangka pendek. Misalnya, value multiplier effect dari gas jika dijual dalam negeri diperkirakan 25 dollar AS per mmbtu (million british thermal unit). Sedangkan harga gas ekspor melalui pipa 15,6 dollar AS  per mmbtu, untuk LNG 14,5 dollar AS per mmbtu. Harga gas domestik 5,8 dollar AS per mmbtu. Kalau SKKMigas (ESDM) dituntut meningkatkan pendapatannya (sesuai APBN), tentunya akan pilih ekspor. Demikian juga KKKS (kontraktor gas) lebih suka ekspor.

Dalam pembukuan ESDM tertulis lebih untung dengan mengekspor, tetapi secara keseluruhan negara berarti kehilangan potensial multiplier effect yang 25 dollar AS per mmbtu. Kalau kita terus berorientasi menjual gas ke luar negeri, secara jangka panjang akan jadi masalah serius, sebagaimana sudah terjadi di minyak bumi.

Pokoknya, jangan lagi menjual bahan mentah keluar! Jangan menghitung sekian ton batu bara yang bisa diekspor, tetapi berapa gigawatt batu bara yang kita bawa ke luar. Ton adalah satuan untuk batu bara dalam bentuk bahan mentah, tetapi gigawatt adalah satuan energi. Ini adalah soal paradigma berpikir. Contoh nyata adalah Kalimantan, yang mengekspor banyak batu bara dalam bentuk mentah, tetapi impor energi dari malaysia. Ini ironis.

Ada usulan konkrit?

Dalam perhitungan fiskal (bagi hasil) migas (energi) mestinya lebih utamakan alokasi ketimbang proporsi bagi hasil. Bisa saja dibuat aturan kontrak pengusahaan bagi hasil dengan mengutamakan alokasi dalam negeri ketimbang ekspor.

Saat ini kontrak bagi hasil minyak, negara mendapat 85 persen dan kontraktor 15 persen. Sedangkan gas, negara 70 persen dan sisanya kontraktor. Usulan saya diubah menjadi 50:50, dengan catatan gas dijual untuk dalam negeri.

Kita butuh visi jangka panjang dan pemahaman bersama untuk melihat sumber daya alam tidak hanya sebagai komoditas bahan mentah. Sekali lagi, ini juga soal pemahaman terhadap geologi, terhadap kondisi alam dan lingkungan di negeri tempat kita hidup dan mati ini...

Satu Gunung Meletus, Tak Otomatis Gunung di Dekatnya Ikut Meletus




JAKARTA, Mahffudd — Meski berada pada lempeng bumi yang sama, gunung berapi yang berdekatan tidak akan otomatis menyusul gunung di dekatnya yang meletus. Penentunya disebut bukan kesamaan lempeng, melainkan pada aktivitas masing-masing dapur magma gunung.

"Jadi, tidak ada gunung yang bersambung, semua magma terpisah. Kalau ada yang bilang satu meletus yang lain akan ikut, itu tidak begitu," kata Kepala Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Hariyadi Permana, di Jakarta, Kamis (20/2/2014).

Karenanya, tegas Hariyadi, tidak ada perambatan aktivitas vulkanik. Meskipun sumber magma memang dari lempeng meleleh yang sama, ujar dia, setiap aktivitas vulkanik setiap gunung dikontrol oleh hal yang berbeda.

Hariyadi mencontohkan aktivitas Gunung Sinabung di Sumatera Utara tak serta-merta membuat gunung-gunung di sekitarnya bereaksi. Pada kurun waktu aktivitas Gunung Sinabung meningkat, imbuh dia, justru Gunung Kelud di Jawa Timur dan Gunung Anak Krakatau di Banten yang meletus.

Fakta ini, ujar Hariyadi, menegaskan tidak adanya rembetan aktivitas gunung berapi sekalipun jaraknya berdekatan. Menurut dia, aktivitas vulkanik Gunung Sinabung dan Gunung Kelud sama, yaitu ada lempeng yang tersuduksi pada kedalaman 400 kilometer, meleleh dan naik ke permukaan dalam bentuk cair.

"Begitu dia (cairan lelehan lempeng) menemukan retakan-retakan, maka dia akan keluar," ujar Hariyadi. Hal ini menjelaskan fenomena luncuran atau lelehan hanya terjadi pada satu sisi gunung. "Karena di sisi lain tak ada retakan," ujar dia.

Hariyadi menegaskan, naiknya status aktivitas gunung berapi secara bersamaan memang dimungkinkan. Hal ini terjadi pada gunung yang berada pada daerah lempeng bumi yang sama.

Ketika lempeng tersebut bergeser, gunung-gunung tersebut akan mengalami peningkatan aktivitas. Namun, ujar Hariyadi, belum tentu lempeng lokasi gunung tertentu meleleh maka lempeng lain juga akan meleleh. "Banyak kondisi di bawah permukaan (bumi) yang berbeda," tegas dia.


Edittor By MAHFUD IVAN PATONI 

Benarkah Wajah pada Kain Kafan Ini Milik Yesus?

EPA
MAHFFUDD - Kain Kafan dari Torino menjadi perdebatan sejak lama. Kini, sebuah teori baru diajukan.

Kain Kafan dari Torino adalah kain kafan yang memiliki gambaran wajah manusia yang tampak lelah setelah disiksa dengan tangan menyilang.

Lama dipercaya bahwa kain kafan itu merupakan kain yang digunakan untuk membungkus tubuh Yesus setelah disalib. Wajah yang tampak pada kain kafan itu adalah wajah Yesus.

Mantan Paus Benediktus XVI pernah mengungkapkan bahwa gambaran wajah pada kain itu selalu mengingatkan tentang penderitaan Kristus.

Namun, beberapa penelitian yang pernah dilakukan meragukan kepercayaan. Bahkan, kain kafan itu diduga tak berasal dari zaman Yesus disalib.

Penelitian yang dilakukan pada tahun 1988 oleh ilmuwan dari Universitas Oxford mengungkapkan, kain kafan itu berusia 728 tahun, artinya dari zaman pertengahan.

Riset lain yang dilakukan tahun lalu oleh Universitas Padua di Italia mengungkapkan bahwa kain itu berasal dari masa 300 SM - 400 Masehi.

Kini, sebuah makalah yang yang dipublikasikan di jurnal Meccanica bulan Februari 2014 menyatakan bahwa wajah serupa Yesus pada kain kafan Torino itu dihasilkan oleh gempa.

Alberto Carpinteri, profesor Politeknik Torino yang menulis makalah itu menyatakan, wajah itu dibentuk karena gempa bermagnitud 8,2 yang mengguncang Yerusalem pada tahun 33 Masehi.

Tahun dimana gempa terjadi mendekati tahun kematian Kristus yang diperkirakan antara 30 - 36 Masehi.

Dipaparkan Telegraph, Selasa (11/2/2014), gempa dahsyat itu melepaskan radiasi netron dari tumbukan di batuan.

Selanjutnya, layaknya sinar X, radiasi netron yang dilepaskan karena gempa memicu reaksi sehingga sebuah wajah tercetak pada kain kafan yang menempel pada jenazah.

Radiasi partikel netron itu juga mengacaukan penanggalan karbon, membuat ilmuwan kerap kali menduga bahwa kain kafan itu berusia lebih muda.

Ilmwuan lain pernah mengungkapkan bahwa kemungkinan wajah pada kain kafan Torino itu adalah hasil radiasi netron. Namun, sumber radiasi netron itu belum diketahui.

Terkait dengan pandangan Carpinteri, Mark Antonacci, presiden Ressurection of the Shroud Foundation baru saja mengirim petisi kepada Paus Fransiskus agar meneliti kain itu.

Antonacci meminta Paus mengizinkan penggunakaan teknik molekuler guna mengetahui kebenaran teori radiasi itu benar.

Christopher Ramsey, direktur Oxford Radiocarbon Accelerator Unit mempertanyakan pandangan Carpinteri. Mengapa radiasi memengaruhi kain itu tetapi tidak material lain?

Menurut Ramsey, pandangan Carpinteri belum mampu menyelesaikan teka-teki kain kafan Torino dan apakah wajah pada kain itu memang milik Yesus. 

Dengan Bantuan Ayam, Ilmuwan Ungkap Cara Berjalan Dinosaurus

MAHFFUDD — Bagaimana dinosaurus berjalan? Hingga kini, ilmuwan belum mampu menjawabnya dengan pasti.

Ilmuwan dari University of Chile dan University of Chicago melakukan eksperimen dengan menggunakan ayam.

Mengapa ayam? Menurut ilmuwan, ayam sebagai salah satu jenis burung dianggap merupakan kerabat terdekat dari dinosaurus seperti T-rex.

Ilmuwan mengambil 12 ayam sebagai obyek studi. Eksperimen sendiri dilakukan selama 12 minggu. Ayam dibagi dalam tiga kelompok.

Pada empat ayam, ilmuwan menaruh batang kayu dan lilin mainan di bagian ekornya. Pada empat ayam lainnya, ilmuwan menaruh beban di atas tubuh ayam. Sementara itu, empat lainnya tidak dimodifikasi.

Pada empat ayam pertama, batang kayu dan lilin mainan diganti setiap lima hari guna menyesuaikan dengan pertumbuhan ayam. Massa ekor dijaga agar mencapai 15 persen massa tubuh.

Intinya, lewat eksperimen ini, ilmuwan ingin melihat bagaimana perubahan pusat massa tubuh memengaruhi postur dan kinematika gerak ayam.

Hasil riset menunjukkan, ayam dengan ekor buatan dari batang kayu memiliki gerak berbeda dengan kelompok lain.

Menurut ilmuwan, ayam dengan ekor buatan punya femur (tulang paha) yang berorientasi vertikal dan tibiotarsus, tulang antara tulang paha dan jari kaki, horizontal.

Seperti dipaparkan The Independent, Minggu (9/2/2014), tulang femur dan tibiotarsus pada ayam itu juga lebih tertekuk.

Hasil riset yang dilakukan Bruno Grossi dan rekan itu dipublikasikan di jurnal PLOS ONE, Rabu (5/2/2014) lalu.

Ayam dengan ekor buatan itu lebih kurang menunjukkan gerakan dinosaurus. Perbedaan cara gerak ayam itu bisa dilihat dalam video berikut

Editor By Mahfud Ivan Patoni

Bulan Saturnus Berwajah seperti Simbol Yin dan Yang


 

MAHFFUDD.blogspot.com — Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) menangkap citra menarik salah satu bulan Saturnus, Iapetus, dengan wahana antariksa Cassini.

Citra itu sebenarnya diambil pada Agustus 2013 tetapi baru dirilis NASA pada Desember 2013. Keunikannya, Iapetus tampak seperti simbol Yin dan Yang.

"Wajah ini merupakan bagian Iapetus yang menghadap ke Saturnus," demikian dinyatakan NASA seperti dikutip Space, Selasa (21/1/2014).

"Bagian utara Iapetus ada di atas dan berotasi 30 derajat ke kanan. Citra diambil dengan basis cahaya tampak dengan kamera narrow-angle pada 30 Agustus 2013," demikian pernyataan NASA.

Beberapa ilmuwan berpikir bahwa dua wajah Iapetus terkait dengan rotasinya yang lambat sehingga bagian gelapnya menyerap lebih banyak panas, butuh waktu lebih untuk memanas.

Material es apa pun yang jatuh ke permukaan panas akan berubah menjadi gas dan kemudian jatuh lagi ke zona yang lebih dingin. Yang gelap makin gelap, yang terang makin terang.

Iapetus pertama kali ditemukan oleh Giovani Cassini pada tahun 1872. Bulan Saturnus ini mempunyai keunikan karena memiliki struktur semacam pegunungan di ekuatornya.

Ilmuwan mengatakan, dahulu, ada tumbukan benda antariksa yang melemparkan sebagian dari Iapetus, membentuk bulan baru yang mengorbitnya.

Debris dari tumbukan itu lalu membentuk bulan baru yang mengorbit Iapetus. Namun, gravitasi Iapetus menarik kembali material itu sehingga membentuk struktur semacam pegunungan.

Hipotesis lain, dahulu Iapetus berputar jauh lebih cepat dari saat ini sehingga struktur itu bisa terbentuk.

Cassini diluncurkan pada tahun 1997 dan sampai di Saturnus pada tahun 2004. Wahana ini akan terus menyelidiki Saturnus dan bulannya hingga tahun 2017.

Pantau Potensi Hujan secara "Real Time" Lewat Sadewa

MAHFFUDD.blogspot.com — Akan pergi bekerja atau wisata tetapi khawatir hujan akan menghambat perjalanan? Ada baiknya memantau prakiraan cuaca terlebih dahulu.

Salah satu platform yang bisa digunakan publik untuk memantau cuaca, terutama potensi hujan, secara real time adalah Sadewa.

Sadewa, singkatan dari Satellite Disaster Early Warning System, merupakan sistem informasi peringatan dini bencana berbasis teknologi satelit.

Sadewa dikembangkan lewat kerja sama Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (Lapan), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), serta beberapa pihak lain.

Platform ini mampu menyuguhkan informasi tentang potensi hujan ekstrem yang bisa mengakibatkan bencana banjir dan longsor hingga resolusi 5 km.

Bagaimana membaca prakiraan cuaca di Sadewa? Untuk mengetahuinya, buka lebih dulu Sadewa di tautan ini.

Terdapat beberapa kotak pilihan di bar bagian atas, di antaranya Hujan, IR1, IR2, IR1-IR2, IR1-IR3, COM, dan lainnya.

Dari sekian banyak pilihan, beberapa pilihan yang paling penting antara lain Hujan, IR1-IR2, IR1-IR3, dan COM.

Jika memilih informasi tentang hujan, maka akan terlihat wilayah Indonesia dan tutupan awannya. Peta bisa diperbesar untuk melihat lokasi yang lebih spesifik.

Akan terlihat wilayah dengan tutupan awan berwarna hitam hingga abu-abu. Wilayah yang tertutup awan itu berpotensi mengalami hujan dari intensitas ringan hingga lebat.

Pilihan IR1-IR2 menyajikan informasi tentang wilayah yang tertutup awan Cirrus (tipis) atau awan Cumulonimbus.

Bila wilayah Anda tertutup awan Cumulonimbus (berwarna hijau tua), maka besar potensi wilayah Anda akan diguyur hujan.

Pada pilihan IR1-IR3, diperlihatkan wilayah yang tertutup awan tinggi (Cumulonimbus) yang berwarna biru gelap dan awan rendah (Cumulus).

Sama seperti pilihan sebelumnya, jika suatu wilayah tertutup awan Cumulonimbus, wilayah itu berpotensi mengalami hujan lebat.

Sadewa dikembangkan berdasarkan hasil pengamatan satelit MTSAT. Informasi yang disajikan dalam Sadewa mendekati real time.

Sebagai perbandingan, bisa juga dilihat prakiraan cuaca di situs web Badan Meteorologi, Kilmatologi, dan Geofisika (BMKG).

BMKG menyediakan informasi prakiraan cuaca 12 jam, prakiraan cuaca harian, dan khusus Jabodetabek ada prakiraan potensi banjir.

Ayo, lebih cerdas dalam perjalanan dengan melihat prakiraan cuaca.

Mengapa Jabodetabek Terasa Sangat Dingin Dua Hari Ini?

 

MAHFFUDD.blogspot.com — Sejumlah warga Jabodetabek berkicau di media sosial tentang suhu yang terasa sangat dingin.

"Ini Jakarta apa Dieng? Dingin banget broh!" kicau Riviani Rivi, salah satu pengguna Twitter. Deni P Fauzy, pengguna Twitter lain, berkicau, "Ini Jakarta yang emang dingin atau gw yang sakit?"

Catatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memang menunjukkan bahwa suhu Jakarta lebih rendah dalam dua hari ini.

"Untuk hari ini, (Rabu, 22 Januari 2014), suhunya antara 22-28 derajat celsius," kata Mulyono Rahadi Prabowo, Kepala Pusat Meteorologi Publik BMKG.

Suhu Jakarta yang dingin terkait dengan pelepasan dan penyerapan energi panas dari wilayah Jabodetabek, termasuk Laut Jawa, selama musim hujan.

Kepala Pusat Perubahan Iklim dan Kualitas Udara BMKG Edvin Aldrian menerangkan, saat hujan tidak maksimum seperti hari ini, suhu memang bisa terasa dingin.

"Ini karena untuk membentuk hujan berikutnya, ada penyerap panas dari lingkungan," kata Edvin saat dihubungi Kompas.com.

Akibat banyak panas yang terserap, kalor di lautan dan daratan sekitar Jakarta berkurang sehingga warga penghuninya merasakan suhu dingin.

Mulyono menambahkan, saat hujan turun, terjadi peubahan fase air yang diikuti dengan pelepasan energi panas. "Ada pengembunan," katanya.

Karena pelepasan energi panas tersebut, suhu saat hujan terjadi kadang justru terasa lebih hangat dari biasanya.

"Saat tidak terjadi hujan justru sebaliknya. Tidak ada pelepasan panas sehingga yang terjadi justru kita merasa dingin," urainya.

Edvin mengatakan, hujan lebat di Jabodetabek akhir-akhir ini sebenarnya memiliki jeda, tidak terjadi setiap hari.

Contoh, pada Selasa (21/1/2014), hujan mengguyur dari dini hari hingga sore hari. Namun, hari ini hujan sangat minim.

Menurut Edvin, penjelasan dari persoalan pelepasan dan penyerapan kalor bisa ditangkap dari jeda hujan lebat itu. Usai hujan lebat dan hari sesudahnya, biasanya suhu akan terasa dingin.

Mulyono dan Edvin mengungkapkan bahwa fenomena dingin ini adalah hal yang normal dan biasa terjadi saat musim hujan seperti saat ini.

Hujan Turun, Kodok Bersuara Domba Muncul di Australia

MAHFFUDD.blogspot.com — Turunnya hujan baru-baru ini di kawasan sekitar kota Alice Springs, wilayah utara Australia, telah mendorong banyak kodok jenis Main's Frogs naik ke atas permukaan tanah. Uniknya, kodok jenis ini bila bersuara menyerupai domba hingga nama lainnya adalah Sheep Frogs, alias kodok domba.

Pencinta satwa, Chris Watson, Mark Carter, dan Samantha Hopley bertemu dengan ratusan kodok ini pada Sabtu (18/1/2014) lalu di dekat situs bersejarah Emily Gap.

"Itu pertama kalinya saya melihat mereka dalam jumlah begitu banyak," cerita Watson, "Mereka muncul dari bawah tanah dan berkembang biak."

Watson mengaku pertama kali mendengar suara kodok jenis ini saat memandu wisata di dekat formasi batu Uluru, juga di wilayah utara Australia.

"Begitu hujan turun, mereka mulai bersuara, dan waktu itu saya pikir ada yang melepaskan domba ke daerah itu!" akunya.

Jenis kodok Sheep Frogs tinggal di bawah tanah hingga jarang terlihat. Namun, bila telah turun hujan dalam jumlah banyak, mereka akan naik ke atas tanah dan berkembang biak. Demikian jelas Watson.

Sheep Frogs memiliki ciri khas garis memanjang di bagian punggung.

Watson memperingati bahwa bila ada banyak kodok, biasanya akan ada juga ular di daerah yang sama.

Bumi Kita Terus Memanas!

MAHFFUDD.blogspot.com - Studi yang dilakukan oleh Badan Atmosfer dan Kelautan Amerika Serikat (NOAA) dan Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) menegaskan bahwa Bumi semakin panas.

Kedua institusi tersebut menyebut tahun 2013 sebagai tahun terpanas sepanjang masa yang telah tercatat.

Laporan NOAA mencatat bahwa tahun 2013, bersama tahun 2003, adalah tahun terpanas keempat sepanjang masa.

Sementara, menggunakan metode yang sedikit berbeda, NASA menyatakan bahwa 2013 adalah tahun terpanas ketujuh setelah 1880, bersama dengan tahun 2009 dan 2006.

Tahun 2013 juga dinyatakan sebagai tahun terpanas ke-37 secara berturut-turut dimana suhu Bumi lebih tinggi dari abad 20.

Selain itu, tahun lalu juga dinyatakan sebagai salah satu dari 10 tahun terpanas sepanjang abad ke-21.

Gavin Schmidt, deputi direktur NASA, mengungkapkan bahwa adanya salju, suhu dingin ekstrem, dan lainnya tak mampu menampik fakta bahwa Bumi telah memanas.

"Jangka panjangnya jelas. Tak akan hilang. Tidak ada kesalahan dalam perhitungan kami," ungkapnya seperti dikutip ABC, Rabu (22/1/2014).

Selama tahun 2013, Australia mengalami tahun terpanas dalam 104 tahun terakhir. Sementara, Botswana dan Namimbia mengalami kemarau terparah dalam 30 tahun terakhir.

Hampir semua daratan di Bumi pada tahun lalu mencetak suhu terpanas. Hanya wilayah tengah Amerika Serikat yang memiliki suhu di bawah rata-rata.

Bumi yang semakin memanas salah satunya dipicu oleh emisi gas rumah kaca. Perlu upaya menekan emisi sehingga Bumi masih dapat mendukung kehidupan dalam jangka waktu lama.